Ampiang Badadiah

Katonyo Lidah Indak Batulang
Daging Kabau Lamak Dirandang
Ampiang Badadiah di Padang Panjang
Di Ambo Lamak Antah dek Urang

Dadiah? Familiar?

Lebaran kemarin, AR diajak Anih mampir di Restoran AMPIANG BADADIAH. Cendol dikasi Ampiang (Beras Ketan yang digepengkan biji perbiji), AR sudah sering melahapnya dan yang paling sering di Cendol Pattimura dekat Rumah Sakit Salaguri Padang. Cendol Minang yang belum ada tandingannya, hanya bergerobak tapi karyawan ada berlima sakali tagak (baca: ketika buka). Kalian belum ke Padang kalau belum coba Es Cendol Pattimura, yang asli ya. Slurp it, Memorize it!!!
Ajakan makan itu sebaiknya jangan ditolak kecuali ada hal lain yang lebih urgent, setidaknya untuk menghormati ajakan ahlul bait. Itu nasehat orang-orang salaf (baca: dulu).

Meluncurlah kami ke arah Padang Panjang dengan rute Marabau-Kurai Taji-Pauh Kambar-Pakandangan-Sicincin-Kayu Tanam-Lembah Anai/Air Terjun-Sate Mak Syukur-Sate Saiyo-AMPIANG BADADIAH. Alhamdulillah macet lebaran sudah berkurang dan bekas longsor sudah tak terlihat. Oh ya, kami tak berhenti di dua sate berkuah kuning itu. Sate terlalu mainstream, hehehe.

image

Jam Dhuha sudah hampir habis, kami baru saja melewati mobil-mobil yang terparkir di Sate Mak Syukur. Kira-kira 100 meter, kami melintasi Plang Sate Saiyo yang tampak menua dan sudah siap dimuseumkan. Selang 200 meteran, sampailah kami berempat dan anak pertama AR di Ampiang Badadiah (dan Katupek Gulai Tunjang).

image

Penampakannya seperti putih telur. Rasanya Nano-Nano, ada asamnya sedikit. Salah AR, lidah tak terlalu lama merasakan sensasi pertama memakan dadiah. Tahun depan dicoba lagi deh. Di bawah dadiah yang putih, warna coklat gula aren mendominasi. Manis dengan sensasi mengunyah beras ketan yang dicampur kelapa dan disiram kuah gula aren. Tak sampai 10 menit (sambil menjaga duduknya anak pertama) piring sudah licin mengkilap. Nikmat, Mak Nyus, Ajiiib. Satu lagi makanan ranah Minang yang masuk list wajib dicoba kalau pulang kampung.

image

Masih ga tau dadiah? Rasa penasaran kawan-kawan kurang neh, tanya mbah google atuh hehehe. Fyi, dadiah itu susu kerbau yang dimasukkan ke dalam potongan bambu dan dikonsumsi dalam keadaan mengental. Mak Etek, Pemilik dan Penemu Ampiang Badadiah, bercerita kalau dadiah di restorannya dipasok oleh generasi kedua dan sudah berjalan belasan tahun. Kualitas dadiah di restoran ini tetap terjaga walau banyak beredar dadiah belum jadi dan basi di pasaran.

Restoran sederet Mak Syukur & Saiyo ini baru saja dibuka, yang pertama ada di dekat Pusat Kota Padang Panjang. Pas nemanin si Uni yang ga mau diam di tempat duduknya, AR melihat foto Mak Etek bersama Azwar Anas. Makanan pejabat rupanya ini, Mak nyussss.

image

Akhirnya kami berlima yang berbeda generasi pamit pulang setelah ditraktir 4 (empat) porsi Ampiang Badadiah. Terima kasih jamuannya Mak Etek, semoga makin sukses dan berkah usahanya aamiiin ya robbal’alamin.

NB: Selamat kepada Dua Putra Pariaman (Pak Asman Abnur dan Pak Arcandra Tahar) yang diangkat menjadi Menteri-nya Pak Jokowi. Fyi, Mak Etek dan Pendiri Sate Saiyo itu orang Pariaman. Istri pendiri Sate
Mak Syukur juga orang Pariaman dan sekitar 80% Pegawainya berasal dari Nagari Kurai Taji Pariaman.

Bangga jadi Urang Piaman!!!

Yuk Mambangun Piaman!!!

Yuk Membangun NKRI!!!

Yuk Ikut Tax Amnesty!!!

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s