Rio, Pertamina, dan Orang Kaya Bodoh

“Kalau indak ado urang kayo andir, indak bakal berkembang indang di kampung”, begitulah statement ninik mamak (sesepuh.red) kemarin.

Urang Kayo Andir (baca: Urang Kayo Andia) atau Orang Kaya Bodoh adalah panggilan sayang untuk donatur di Piaman (Pariaman.red). Kurang lebih seperti ini definisinya: Urang Kayo Andir adalah orang kaya yang senang menyumbangkan dana pribadinya untuk urusan yang tak membawa maslahat secara signifikan kepada dirinya (biasanya donasi di bidang seni & olahraga untuk hiburan rakyat), misal: sumbangan untuk kelompok seni indang, sumbangan untuk Tim Sepakbola Kampung, dan lain sebagainya.

image

(Sumber foto dari sini)
Oh ya, Indang itu kesenian khas Pariaman yang makin terpinggirkan. AR saja baru tahu ada seni seperti ini di Pariaman *durhaka ketika anih membawa beberapa VCD (Video Compact Disc) Indang. Kalau boleh disamakan, Indang adalah Tari Saman-nya Pariaman. Yup, Aceh dan Pariaman punya ikatan sejarah yang kuat. Menurut cerita dari ninik mamak, Kerajaan Islam di Aceh pernah mengirimkan bala tentaranya untuk membantu perjuangan rakyat Pariaman melawan penjajah.

Orang Piaman (Pariaman.red) itu memang ahli dalam menciptakan panggilan unik. Urang Kayo Andir salah satu yang monumental menurut AR. Mereka itu tidak bodoh, mereka cerdas dan orang terpandang di seantero kampung. Kata “andir” sudah mengalami pergeseran makna, bodoh di sini lebih bernuansa pujian. Mereka dipuji “andir” karena tidak segan menghamburkan uang untuk menghibur orang lain. Kalau Tim Sepakbola kampung butuh biaya pendaftaran turnamen, mereka lah solusi pertama dan terakhir hehehe. Begitu juga jika kampung butuh modal untuk mengadakan lomba 17-an, mereka tidak segan menghamburkan uang jutaan. Selain itu, mereka dikatakan bodoh karena seringkali tak hadir menonton indang, pertandingan sepakbola, atau lomba panjat pinang. Bisa jadi karena sibuk dan bisa saja mereka tak berminat. Baa andir bana ajo ko! (Kok abang bodoh banget sih!).

Bila di masa lampau urang kayo andir ini benar-benar andir maka tidak saat ini. Di zaman pemilihan langsung, mayoritas urang kayo andir ini tertarik berpolitik. Donasi mereka ke lingkungan sudah masuk dalam anggaran kampanye, entah berkampanye untuk diri mereka sendiri atau konco-konco politik mereka. Apakah mereka ikhlas? Ah kawan, jangan ngomongin keikhlasan di negeri demokrasi. Jatuh-jatuhnya nanti malah berghibah. Ingat kasus biskuit MPASI berstiker beberapa tahun lalu?

Pertamina adalah Urang Kayo Andir-nya Rio, tentu yang versi pemilihan langsung. Jika Urang Kayo Andir memarketingkan dirinya/konco politiknya maka Pertamina menterkenalkan dirinya dan Indonesia. Seperti yang disampaikan Direktur Pertamina tempo hari di hadapan Dewan yang Terhormat:
“Dana untuk Rio ini memang dari program marketing Pertamina, dan sudah dianggarkan sebelumnya. Kan sejak 2010 kita ikut terus. Akhir 2015 kita lihat potensi Rio bisa melaju ke F1. Sumber pendanaannya dari internal Pertamina,” ucap Dwi kepada wartawan seusai rapat.

image

(Sumber foto dari sini)

Beberapa hari belakangan, rakyat terbelah dua lagi. Entah untuk keberapa kali sejak 2012 lalu, you know lah. Dan untuk yang kontra Pertamina & Rio Haryanto, tulisan dari Pak Made Supriatma jadi semacam obat kuat. Sampai-sampai Direktur Utama Pertamina harus melakukan klarifikasi di laman facebook miliknya (semoga bukan fb klonengan ^_^). Biasanya tulisan untuk mengcounter Pak Made Supriatma akan muncul seketika di wall fb AR, kali ini tidak. Akhirnya setelah membaca tulisan Mas IWB tentang mengapa Rio Haryanto harus “nyogok” untuk berlaga di F1, AR menuliskan beberapa poin di laman facebook untuk mencoba menjawab kritikan/cacian para pengkritik/haters. Menurut hemat AR, tulisan di wall kemarin layak diabadikan di atlantis dengan beberapa perubahan. Enjoy it!

1. Manajemen Rio Haryanto, Kiky Sports, terpaksa berutang untuk membayar uang muka ke Manor Racing sebesar USD/Euro 3 Juta. Ini dilakukan setelah janji pemerintah (baca: Menpora) tidak terealisasi.

2. Pertamina sudah menjadi sponsor Rio Haryanto sejak beberapa tahun lalu di GP2 (Bukan F2 ya, dulu namanya Formula 3 yang diikuti Ananda Mikola. Kalau kawan dan Rio haters (Rio yang humble, tak pernah berjanji palsu, & membanggakan itu harusnya tak punya haters)) sebegitu pinginnya uang BUMN itu digunakan untuk kepentingan rakyat maka kawan-kawan TELAT!!! Kemaren2 kemana aja!!! Tuh Garuda ga disemprot juga? Entah olahragawan mana lagi yang disponsori Pertamina? Itu Satria Muda saja sudah jadi SMP, Satria Muda Pertamina.

3. AR bahagia melihat status Mas Made ini menginspirasi banyak orang akan bahayanya kepemilikan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya oleh asing, lanjutkan!!! Bagi AR, Rio Haryanto masih jadi bagian dari NKRI walau olahraganya bukan bola kaki. Dia bukan orang asing. Siapapun yang ada di belakang kemudi jet daratnya Manor, AR juga turut bangga. “Lho Manor Racing kan perusahaan asing mas?”, lha itu Liverpool juga kagak ada Indonesia-Indonesianya. Paling kostum dan julkannya yang Merah, mirip kostum Tim Nasional Sepakbola negeri ini. For me, Manor Team Racing (MRT) with Rio Haryanto is more Indonesian.

4. Formula 1 itu olahraga mahal kawan, paling mahal di antara keluarga balap-balapan mobil. Betapapun hebatnya kawan sekalian nyetir Metromini di DKI (AR ga pernah menyangka kelir jet darat Rio akan mirip dengan Metromini ketika menulis pengandaian ini kemarin dan akhirnya warna tunggangan Rio jadi bahan bully haters), penjenengan ga akan bisa ikut balap mobil jika ga punya duit banyak. Ananda Mikola, Moreno Soeprapto, Hutomo Mandala Putra a.k.a Tommy Soeharto, Alexandra Asmasoebrata, Rio Haryanto, Sean Gelael, dll adalah anak orang kaya. Terkait Rio, keluarganya punya pabrik buku. Itu lho mas, buku tulis kiky.
Menurut Mas IWB (yang punya blog motor nomor satu sa-Indonesia), uang yang disetor Rio Haryanto untuk balapan semusim itu tak akan cukup untuk membiayai pengeluaran Rio selama semusim. Sebagai Tim Kecil (semoga bukan penggembira.red), stiker-stiker di Jet Darat Rio pun  tak cukup membantu Manor. Jadi dalam hitung-hitungan awal, Manor masih mengalami defisit dengan merekrut Rio. Beda halnya dengan perusahaan tambang-tambang asing yang jadi bonafid karena bumi dan kekayaan alam milik seluruh Bangsa Indonesia, dan itu pun dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. AR bukannya membela Manor tapi ini olahraga orang kaya kawan. Membandingkan Manor asal Inggris itu dengan penyedot tanah air itu ga pas, ga apple to apple.

5. Manajemen Manor Racing mengkaitkan euforia masyarakat se-Indonesia itu hal yang wajar. Namanya juga bisnis kawan, mungkin Rio lebih “menguntungkan” dibanding orang amerika itu. Pada seneng kita ngalahin Amerika kan? Akan lebih menyenangkan lagi kalau Freeport tak diperpanjang kontraknya.

image

(Sumber foto)

6. Mungkin benar jika rakyat Indonesia cuma dapat kebanggaan dan hiburan dari keikutsertaan Rio di F1. AR rasa itu cukup di tengah keterpurukan bangsa ini di sisi kedaulatan ekonomi dan sepakbola (AR juga tak menyangka, Presiden Jokowi memerintahkan Menpora mencabut pembekuan PSSI beberapa hari setelah tulisan ini diposting di laman facebook). Rakyat perlu hiburan untuk melupakan kerasnya hidup dengan harga bahan pokok yang tak menentu. Jadi wajar lah tontonan yang laku di negeri ini adalah yang ketawa-ketiwi entah pake banci atau LGBT.
Btw, Menpora-nya ga dibekukan saja Pak Jokowi? AR yakin banyak kader parpol pendukung pemerintahan yang lebih sabar dan bijak dibanding beliau. *nooffense

7. AR turut bangga Joey Alexander mendapatkan nominasi Grammy dan standing applaus di amerika. Sekali lagi kita menaklukkan amerika, bangsa ini hebat. Tapi kawan, Jazz bukanlah musik negeri ini. Dangdut is the music of my country.

8. Terus terang AR belum pernah ke luar negeri. Kalau Jakarta/Jogjakarta/kota besar lainnya di Jawa dibandingkan dengan kota kecil di negara lain, itu ga apple to apple lagi bro. Kota-kota kecil di negeri ini juga memiliki pengelolaan sampah yang baik, lha emang sampahnya sedikit kok ^_^. AR belum tahu apakah Rangoon dan Jogja itu apple to apple. Yang AR yakini: kota besar dan padat penduduk adalah kombinasi untuk menghasilkan sampah menggunung. Kita harus akui dana untuk mengelola sampah belum sebesar negara maju, bahkan untuk Jakarta yang APBD-nya melimpah sekali pun.

9. Investasi di olahraga itu sejatinya hanya bermanfaat untuk si olahragawan dan dunia olahraga (promotor, pemilik, wasit, dkk). Kita para penonton hanya ikut terhibur, itu juga kalau kita hobby nonton siaran olahraga. Kalau hobinya nonton d’academy atau sinetron anak kaya salah asuhan, ya DL!!! (derita lo.red).

AR ingat pembahasan hadits mengenai muslim yang terbaik adalah muslim yang memanfaatkan waktunya untuk hal-hal terbaik. Kebetulan saat itu euforia naturalisasi lagi melanda jagat sepakbola sak-Endonesia, ingat Irfan Bachdim ga? Sang penceramah/ulama berkata:
“Kalau mau olahraga, lari-lari atau jalan-jalan juga berolahraga. Itu pada ngapain sih satu bola dikejar rame-rame, kurang kerjaan. Apalagi yang nonton, membuang-buang waktu berharganya. Kalau saya, waktu luang dimanfaatkan untuk membaca Al Qur’an. Bukan begadang tengah malam untuk nonton sepakbola.”
AR ngefans sama ulama tersebut tapi kali ini ga terlalu sepaham. Beliau pasti bukan fans sepakbola. Kalau beliau fans sepakbola, mungkin yang disentil itu bulutangkis. Hobi mengaji itu jauh lebih baik dunia akhirat dibanding hobi nonton F1 or Sepakbola, itu pasti.

image

(Sumber foto)

Kawan sekalian, Rio yang sudah melakukan test drive pertamanya kemarin di Spanyol tidak dibiayai APBN. Yang membiayai Rio itu Pertamina dan keluarganya, terakhir Sandiaga Uno serta Visit Malaysia dkk merencanakan ikut jadi sponsor. BUMN itu unik kawan, milik negara tapi pengelolaannya unik. Monggo ditanyakan ke yang lebih paham. Bahkan dalam penentuan beberapa Komisaris BUMN pun unik, jadi semacam “jatah” Tim Sukses. Tidak semua memang tapi pasti ada relawan yang dapat “jatah”, entah kompeten atau tidak, entah pakai lelang jabatan atau tunjuk langsung. Btw, ada BUMN yang menggaji karyawannya selangit tapi BUMN-nya sendiri ga pernah memberikan dividen ke Republik Indonesia. Di bully netizen kah BUMN tersebut dan para karyawannya? Entahlah, sepertinya netizen sudah terpuaskan dengan membully aparat pajak yang katanya digaji selangit tapi target tak tercapai ^_^.

NB: Berikut counter lainnya untuk tulisan Mas Made dari Mas Widya Airlangga di facebook

Iklan

3 pemikiran pada “Rio, Pertamina, dan Orang Kaya Bodoh

    1. betul hotman, buat apa gengsi”an dikenal dunia luar klo di dalam negri kita msh banyak saudara” yg menderita…… .

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s