Los Lambung dan Kaki di Atas Meja

Baru kemarin rasanya menikmati sepiring katupek gulai tunjang (ketupat gulai tunjang) di Los Lambung (catatan: agar “lambung” dibaca dengan langgam Minang, akan terdengar seperti lambuang. Kalau tak mirip, tak dosa) Pasar Kurai Taji Kota Pariaman, tak terasa Ramadhan akan segera tiba. Entah kawan semua, AR merasa waktu semakin cepat berlalu.

image
Katupek Tunjang

Los Lambung, begitu sebutannya walau tak tertera di papan petunjuk arah, itu semacam food court tradisional dengan segala ketradisionalannya. Meja besar dan kursi panjang menambah jiwa tradisionalnya. Letaknya berada di pusat Pasar Kurai Taji, persis di muka jalan utama. Entah siapa yang memulai penggunaan frasa “Los Lambung” untuk penyebutan lokasi ini, but it’s a very good choice.

Bagi AR, Los Lambung punya tempat tersendiri di dalam ingatan yang terbatas ini. Los Lambung adalah salah satu elemen penting dalam perhelatan pernikahan AR di medio 2012 lalu. Di tempat inilah AR menjamu Kapalo Mudo (sebuah jabatan adat di Pariaman) dan pemuda sekampung, ritual wajib bagi lelaki pariaman yang baru menikah. Ada yang tahu tugas Kapalo Mudo dan para pemuda dalam prosesi pernikahan lelaki Piaman (Pariaman.red)?

image

(Sumber foto di sini)

Kita semua paham, ras melayu terkenal suka kongkow-kongkow di warung kopi, tak terkecuali urang Piaman. Killing the time, right? Kalau kaum wanita menggosip di rumah-rumah, kaum pria maota (ngoblor ngalor ngidul, bisa jadi juga ngegosip) di lapau. Tentu tak semua laki-laki piaman hobi maota tiok (tiap) hari di lapau, Los Lambung lah solusi yang tepat untuk sedikit maota dan bersilaturahim. Kalau lagi ngidam maota dan sepiring Katupek, sabtu atau minggu pagi lah saat yang tepat. Soto Padang, katupek gulai tunjang, katupek paku, katupek pical (pecel), teh talua (teh telor.minang) dan menu sarapan lainnya akan menemani perut yang sudah kosong berjam-jam.

image

(Sumber foto di sini)

Beberapa waktu yang lalu, AR mendapat cerita tentang Piaman yang juga dilanda virus batu. Stadiumnya lebih parah dari Jakarta kabarnya, emak-emak penjual sayur pun ikutan menjadi flintstone. Katanya sih, ga pake batu ga gaol. Walau AR tak sepenuhnya setuju dengan klasifikasi gaul terkait akik, setidaknya ngakik lebih sehat dan lebih berempati dibanding ngerokok di tempat umum. You know lah, ababil-ababil itu kan awal merokok karena ingin dibilang gaul, laki, atau hal-hal ababil lainnya. Ketika sudah tak ababil, candu yang mendera.

Layaknya virus, hobi batu akik pun melanda Los Lambung.  Kaum lelaki penghuni setia food court tradisional itu punya bahan pembicaraan yang baru, the gemstone. Dari yang muda sampai yang senior datang dengan akik terbaiknya. Bahkan akhir-akhir ini, ukuran akik pun menjadi perbincangan. Jadilah kaum adam memakai cincin raksasa dan ada yang sampai tak bisa membengkokkan jarinya, salut! Dan “gilanya”, satu jari tak cukup hebat. Makin banyak, makin baik. Bigger is better. Los Lambung telah mengakik dengan seakik-akiknya.

image

(Sumber foto di sini)

Jadi kawan, jangan coba-coba datang ke Los Lambung tanpa mengenakan Batu akik, siap-siaplah dicemeeh (diejek, disindir). Dan kabarnya, para dedengkot Los Lambung sudah menciptakan kalimat cemeehan yang ampuh untuk lelaki yang menampakkan jari mulusnya di atas meja. Dan ini sungguh kalimat brilian:

“Itu kaki kok di atas meja (diucapkan dengan bahasa dan langgam piaman tentunya)”

Bersyukurlah AR tak alergi tingkat tinggi dengan akik. Dipakai boleh, disimpan tak apa. Dikasi, senang banget ^_^.

Stay hungry, stay healthy, and stay ngakik!!!

I love Indonesia, mmmuaaachh

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s