Jokowi, Ahok, dan Rawabening

Sejak setahun terakhir, media sosial (medsos) terus terjaga hiruk-pikuknya. Topiknya pun beranekaragam, mulai dari politik sampai batu akik. Hilang satu, muncul lagi. Menurut seorang pengamat medsos berkaliber nasional, karakter Bangsa Indonesia-lah yang menjadi salah satu faktor utama meriahnya Facebook, Twitter, Instagram, Path, dkk-nya. Sang pengamat berkisah bahwa sejak dahulu kala Bangsa Melayu senang berkumpul dan bercakap-cakap. Dengan ditemukannya Media Sosial, warung kopi versi dunia maya pun terbentuk dengan sendirinya. Apalagi ketika smartphone murah dipasarkan Negeri Tiongkok di sekitaran Glodok, medsos makin menggila.

Sejak awal tahun ini, salah satu topik yang paling happening di medsos adalah gemstone alias batu akik. Seperti topik yang lain, haters dan loversnya saling berdiskusi (berdebat kalau sudah emosi tinggi). Sedangkan kehebohan di Pasar Rawabening, Pusat Batu Akik terbesar sedunia, sudah mulai terjadi sekitar 2 tahun yang lalu.

image

AR masih ingat sentuhan pertama dengan akik asal Ranah Minang, Lumuik Sungai Dareh, di sebuah Toko Perhiasan kecil dekat Stasiun Pariaman. Sentuhan yang tak berkesan karena hanya membelikan pesanan atasan. Harga deal akik daun pisang itu Rp. 200.000, turun setengah harga dari tawaran si penjual.

Alhamdulillah kemarin AR dapat hadiah akik lagi, gemstone asal Bengkulu. AR begitu excited mengikat batu yang sudah mengkristal ini, racun akik sudah mulai menjalar sepertinya ^_^. Belum pernah beli tapi sudah punya dua biji, kalau kata Prof. Yohannes Surya: MESTAKUNG, Semesta Mendukung.

Sempat menghampiri lapak dadakan sekitar rumah tapi model ikatnya tak menarik, too old school. Soal selera, Pasar Rawabening pilihan paling masuk akal saat ini. Pasti ada ikat yang cocok dari segi rasa dan harga. Rawabening, here i come!!!

image

Tips untuk khalayak:
1. Ini zaman batu, hindari Pasar Batu. Untung bokap udah beberapa kali ke Rawabening jadi kami tak mengalami kemacetan. Thanks to Kereta Rel Listrik.
2. Even kawan tak ada sedikitpun rasa dengan batu, ingat tips nomor 1. Kemarin AR hendak ke JCC Senayan dari arah Klender, AR terjebak kemacetan dari depan Penjara Cipinang sampai lampu merah. Efek Rawabening sudah terasa dari jarak puluhan meter sepertinya.
3. Fokus pada tujuan, jangan termakan bujuk rayu setan. Walau AR pro zaman batu, I’m not the crazy one. Jadi, ada seseorang yang hendak menipu AR di Stasiun Jatinegara. Setelah dua jaman berpeluh keringat bersama flintstone abad 21, AR dan bokap keletihan di bangku stasiun. Tiba-tiba seorang lelaki yang membawa sebuah tas besar bertanya, “Abis dari Rawabening mas?”. AR pun menjawab sejujurnya, eh tiba-tiba dia berceloteh “Tadi saya ditawarin batu Rp. 25 juta. Batu saya aja lebih besar (sambil merogoh sebuah cincin dengan akik lumayan besar, kira-kira 5 cm panjangnya), penjualnya ga mau beli padahal saya cuma tawarin Rp. 20 juta”. Menurutnya, Batu Kumbang Jati nama akik mahal itu.
Stay fokus kawan, batu itu hanya hobi. Tak layak hobi duniawi dihargai begitu tinggi. Kalau hobinya menghapal Al Qur’an, layaklah dihargai setinggi langit. Lihatlah peristiwa pernikahan Putri Ketiga Aa Gym yang menghebohkan dunia dengan bacaan 30 juz Al Quran sebagai hadiah pernikahan (Ralat, menurut web ini, Mahar nya berupa 10 gram emas dan 1 dinar emas).
4. Gunakan pakaian yang nyaman, AC nya kurang terawat dan mungkin karena padat merayap.

image

Tahu safir kan? Bukan perencana keuangan itu kawan tapi Batu Safir. Jadi, AR sempat naik ke lantai atas Pasar Rawabening. Di lantai 2, ada kios Blue Safir yang sepi pengunjung. Sedangkan di lantai 3, terdapat beberapa kios yang disulap jadi toko obat, Pasar Pramuka mini.

Kapan hari, Jokowi sempat berkunjung ke sebuah Pasar Tradisional di Jakarta Timur. Sayang beliau tak mengagendakan mampir ke Pasar Rawabening. Ada sisi positifnya sih, harga akik akan makin menggila jika Presiden berkunjung ke Pasar Batu Akik terbesar sadunia fana ini. Walau begitu, beliau dihadiahi Giok Aceh saat berkunjung ke Nangroe. Pemberian lebih baik diterima walau tak suka. Btw, kalau tak hobi, akiknya buat saya aja Pak Presiden.

Jika Jokowi punya agenda seabreg, Gubernur DKI masih bergulat dengan DPRD. Jangan berharap Ahok akan membantu promosi akik, RAPBD saja belum disahkan. Padahal di daerah lain, beberapa pemerintah daerah sudah jauh-jauh hari membantu promosi batu akik. Tentu APBD 2015 sudah disahkan, bisa disemprit pemeriksa kalau belanja tanpa dana. Bahkan ada yang mewajibkan aparat/PNS menggunakan cincin akik, di Purbalingga contohnya. Kabarnya di Pariaman, ada yang menghelat kontes batu akik. Di daerah lain, pejabat yang berkunjung akan diberi cenderamata berupa cincin akik. Dari bau-baunya sih, Ahok ga demen akik jadi jangan berharap dah.

Back to Rawabening, lantai 1 juga diisi penjual keris dan beberapa asesoris yang sering dipakai orang pintar. Sepi, bahkan lalat pun tak sudi mampir di Toko Keris. Akik menggila, Keris merana.

image

Karena penuh sesak, AR diajak ortu ke luar gedung. Sejak melewati portal parkir, penjaja akik dan kelengkapannya berjejer di sepanjang trotoar. Kalau Pasar Rawabening dikelola Pd. Pasar Jaya, AR tak tahu siapa yang mengelola kios kumuh di sepanjang jalan ini. Rawabening ekonomis, tanpa pendingin ruangan dan wewangian.

image

Finally, This is it!!! My first akik ring! The Gemstone is present, the ring is only Rp. 70.000. Butuh 40 menitan untuk mendapatkan ikat cincin yang pas, baik ukuran maupun rasa.

image

Penjualnya menyebut cincin ini sebagai ikat titanium. Ada juga germanium, aloy, perak, besi, dll. Sedangkan dari segi model, ada ikat model taring bajing seperti cincin pertama AR itu atau model cincin perak dan besi seperti gambar di bawah ini.

image

Hobi tetaplah hobi, jangan dibawa ke hati. Tetap jaga dompet dan akal sehat kita semua, salam ngakik!
________________________________
Catatan:
1. Beberapa foto diambil dari http://www.fotolokasi.com dan http://www.jogjabelanja.com seperti tertera difoto.
2. Ralat: Mahar pe

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s