Uang Japuik, sebuah Cerita

“Bara japuiknyo (Berapa uang jemputannya) ?, “Dibeli berapa kamu?”, “Mahal dong harga loe?”.

Itulah beberapa kalimat tanya yang sering AR dengar ketika mengobrol bersama kawan baru. Begitu melekatnya adat bajapuik sehingga kalimat tanya di atas akan meluncur pada detik pertama setelah mereka tahu AR dari Pariaman.

Sebelum menikah, agak panas juga kuping ini kalau disodorin pertanyaan legendaris itu. Jawaban sederhana AR adalah Adat bukan Agama, kita tak dilarang untuk mengubahnya/melanggarnya. Kini rasanya biasa saja, mereka hanya belum tahu filosofinya.

image
Simpang Toboh, Pariaman

Alhamdulillah AR bisa mengenal seorang pelaku sejarah, beliau pernah menjadi Mahasiswanya Bung Hatta di Universitas Gajah Mada. Beliau sudah memasuki Kepala 8 dengan ingatan yang masih kuat, sekitar 81 tahun umurnya. AR ingat beliau berkisah tentang pelariannya dari rumah kontrakan karena dikejar-kejar PKI (Partai Komunis Indonesia) di tahun ’65-an. Beliau mau dibunuh karena menjadi seorang Muslim yang taat.

Sejak baligh, beliau sudah dipercaya untuk Manjampuik Marapulai (menjemput pengantin laki-laki). Prestasi yang luar biasa untuk anak SMP (Sekolah Menengah Pertama). Manjampuik Marapulai memerlukan hapalan dan kemampuan berbalas pantun, dalam Bahasa Minang tentunya. Seringkali keluarga mempelai pria terkaget-kaget mengetahui yang menjemput seumuran dengan anak atau cucunya.

Salah satu fase kehidupan yang pasti melibatkan prosesi adat adalah pernikahan dan itu berlaku hampir di seluruh Nusantara. Khusus Pariaman, Bajapuik adalah keistimewaan.

Setiap Mamak (Paman dari garis ibu) tertua pasti akan menjadi aktor utama dalam tradisi Bajapuik. Mereka akan datang ke rumah calon mempelai pria, bertemu Mamak si Laki-Laki, dan menyelesaikan prosesi Bajapuik.

Ini bukan lamaran, tak ada kedua calon mempelai di acara itu. Ini adalah adat yang menjadi tanggung jawab Sang Mamak. Apakah pernikahan bisa berlangsung tanpa melibatkan prosesi ini dan Sang Mamak? Bisa!!! Tapi semua ada konsekuensinya. Adat pun bisa menghukum pelanggarnya.

Salah satu unsur yang paling penting dalam Bajapuik adalah Uang Japuik/Uang Jemputan, ilustrasinya seperti ini:

Kedua orang Mamak akan menyepakati besaran uang japuik, misal Rp. 10.000.000. Setelah menerimanya, Pihak Keluarga Laki-Laki akan menambahkan harta sesuai kemampuannya (biasanya lebih besar dari pemberian Pihak Wanita), misal sebesar Rp. 10.000.000. Seluruh dana sejumlah Rp. 20.000.000 tersebut akhirnya akan diserahkan kepada pasangan yang baru menikah (melalui mempelai wanita) untuk digunakan sebagai modal awal dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kalau dalam akuntansi, Uang Japuik itu semacam Stock Capital/Modal Kerja.

AR pernah mendengar cerita Bajapuik dari Paman Istri dimana Pihak Wanita menyerahkan uang sekitar Rp. 100.000.000 dan pasangan baru menerima sebuah Rumah dari Pihak Keluarga Laki-Laki yang nilainya di atas Rp. 200.000.000. Oleh karena itu, AR menyebutnya sebagai Kado Pernikahan versi Pariaman.

Begitulah seharusnya, Keluarga Pihak Laki-Laki akan meminta Uang Japuik sebesar kemampuannya. Tapi kini semua bergeser, mempelai wanita hanya menerima hadiah kecil dari keluarga suaminya dalam prosesi Agiah Jalang. Saat ini, pemberian agiah jalang itu biasanya hanya sekitar 10%-30% dari uang japuik. Banyak versi mengenai musabab perubahan ini, salah satunya AR dengar dari Mahasiswa Sang Proklamator. Begini ceritanya:

Sebagai daerah pesisir, pendatang diterima dengan baik di Pariaman. Ini dibuktikan dengan beberapa nama kampung/desa atau kuburan, seperti: Kampung Jao (Kampung Jawa), Kuburan Cino, Kuburan Belanda, Kampung Nieh (Kampung Nias), Kampung Kaliang (Kampung Keling. Orang Minang menyebut pendatang berperawakan seperti India Dravida sebagai Si Kaliang).

Alkisah, ada seorang Saudagar pendatang dari Nieh yang kaya raya. Dia memiliki seorang Anak Gadis yang cantik jelita. Ayah kaya raya ini memiliki satu impian yaitu bermenantu urang Piaman/Pariaman. Sungguh suatu kebanggaan luar biasa baginya jika bermenantukan Ajo Piaman. Suatu kewajaranlah mengenai keinginan sang Saudagar. Ada satu pepatah yang mengatakan “Di mana Bumi dipijak, di situ Langit dijunjung”. Tentunya proses adaptasi atau pun akulturasi akan berjalan lebih mulus melalui proses pernikahan.

Sudah kemana-mana Sang Saudagar mencari menantu tapi yang diharap tak kunjung ketemu. Banyak alasan yang dikemukakan para target, mulai dari garis keturunan sampai keyakinan. Keyakinan adalah alasan yang paling sering didengar Saudagar. Urang Nieh tak beragama dulunya, mereka masih mempertahankan keyakinan nenek moyangnya (animisme dan/atau dinamisme.red)

Muncullah akal Sang Saudagar, dicarinya target yang kurang berada karena dia dan keluarganya pasti tak akan sanggup mengembalikan dua kali lipat dari Uang Japuik. Berkatalah Saudagar itu kepada Mamak sang calon menantu  “Kalian tak usah mengembalikan Uang Japuik, ambil saja Uang Japuik itu. Anggap saja Uang Hilang”. Akhirnya, menikahlah si Ajo Piaman dengan Putri nan Cantik Jelita.

Setelah pelanggaran pertama adat ini terjadi, pelanggaran lainnya pun muncul dan terus menjamur.

Begitulah salah satu kisah mengenai penyebab pergeseran makna dan praktek Prosesi Bajapuik. Penyelewengan ini makin menjadi hari-hari ini, Ajo Piaman makin “gila” nilainya. Malah muncul pembenaran bahwa sudah sewajarnya keluarga Laki-Laki meminta Uang Hilang karena mereka sudah mengeluarkan biaya membesarkannya. Pembenaran ini sangat mudah dipatahkan karena keluarga Wanita pasti mengeluarkan biaya yang tak kalah besar untuk mendidik anak gadisnya.

image
Harga Ajo Pariaman Piaman

(Sumber foto dari sini)

Tapi sanak, yang namanya manusia itu banyak akalnya. AR pernah mendengar kisah mengenai keluarga calon mempelai laki-laki yang menyediakan uang japuik. Keluarga wanita tak mengeluarkan uang sepeser pun.

Cinta yang suci akan menemukan jalannya.

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s