Untukmu yang Tak Bisa Membeli Susu

AR yakin kawan-kawan satu instansi AR punya bemper untuk menahan shock kenaikan BBM (bahan bakar minyak.red) bulan ini, penghasilan mereka sudah cukup. Mungkin ada yang pas-pasan tapi InsyaAllah masih bisa makan.

Tiap pagi AR naik KRL (Kereta Rel Listrik) & disambung dengan mengendarai motor ke rumah. AR lebih banyak mengisi pertamax karena seringnya kepepet waktu mengejar KRL. Ketika masih jadi bikers di kantor lama, premium tentu pilihan utama. AR anak ekonomi, realistis :). Tak ada pengaruh yang signifikan kepada AR dari segi transportasi. Berapapun harga bensin, belinya tetap Rp. 20.000-an, kihkihkih.
image
(Sumber foto dari http://www.uniqpost.com)

AR ini orang kampung, dulu AR tinggal di Muara Sabak, Jambi di tahun 90-an. Kawan-kawan di kantor tertawa ketika AR bilang kalau AR dan kawan-kawan masa kecil girang banget melihat mobil, di tahun2 itu tak ada mobil di Sabak. Yang paling AR ingat ketika beramai-ramai melihat Pak Ogah dkk naik mobil, mereka dari Ibukota Propinsi.

Beberapa bulan lalu AR bersilaturahim di Pariaman. AR dijamu makan siang oleh sebuah keluarga, mereka berenam beranak. Begitulah adat Pariaman, ramah tamah dan bikin kenyang. Di tembok luar rumahnya terpampang stiker “KK Miskin”. Hati AR menangis karena nasi yang dihidangkan kualitasnya buruk, raskin alias beras miskin. Itulah pertama kali AR merasakan raskin. AR lahap pastinya walau teksturnya berantakan, batu pun siap-siap diterkam. Alhamdulillah lauknya telur sambal, salah satu menu favorit AR. Menu itu termasuk mewah untuk ukuran mereka. Ketika mau makan, anak bungsunya merengek di pangku ibunya, “Malu sama abang, nanti aja makannya”. Akhirnya kami makan sama-sama.

Penghasilan keluarga itu cuma Rp. 500 ribu sebulan dengan anak empat, Alhamdulillah anak tertuanya sudah bekerja sekarang. Anak tertuanya bisa tamat SMA karena program Wajib Belajar gratis 12 tahun di Kota Pariaman. Sempat AR arahkan ke almamater AR tapi dia gagal, Bahasa Inggrisnya agak kurang. AR berdo’a semoga si Sulung bisa membuka usahanya sendiri setelah cukup menimba ilmu dengan seorang pedagang di Jakarta.

Fyi, APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kota Pariaman tak sampai Rp. 500 Milyar. Bandingkan dengan DKI Jakarta yang Rp. 70 Triliun saja, 140 kali lipat. Selain pendidikan dasar yang gratis, biaya kesehatan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota. Tak perlu mencetak kartu-kartuan, cukup menunjukkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) untuk mendapatkan pengobatan gratis. Dua-duanya (Sekolah dan Pengobatan Gratis.red) adalah janji kampanye calon Walikota, beliau tak berdusta.

Walau APBD yang kecil, setengahnya saja habis untuk menggaji aparat, tapi Pariaman punya pemasukan lain yaitu transfer dana dari rantau. Banyak pengusaha asli Pariaman yang sukses di perantauan ikut membantu kehidupan saudaranya di Kampung halaman. Kabarnya, orang terkaya Paris (istilah gaul untuk Pariaman yang merupakan singkatan dari Pariaman dan Sekitarnya. Bisa juga diartikan Pariaman Sabana Laweh, Mentawai dulu masuk Kabupaten Padang Pariaman) saat ini adalah seorang pedagang emas. Belum ada data resmi mengenai siapa orang terkaya di Paris (Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, dan sekitarnya), hanya dari sumbangsihnya ke Nagari. Kalau sidang pembaca sekalian menuju Kota Pariaman dari Lubuk Alung, kawan sekalian akan melewati sebuah rumah besar bernuansa keemasan. Selain megah, rumah itu difasilitasi dengan sebuah Masjid yang dibuka untuk umum. Lokasinya di Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman.
image
(Sumber foto dari sini)

Tahun ini cukup berat untuk Indonesia, defisit sudah diketahui jauh-jauh hari. Salah satu penyebab terbesarnya adalah pelarangan ekspor mineral mentah. Tak apalah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kebijakan SBY ini adalah langkah awal untuk meraih kembali kedaulatan negeri di Sektor Pertambangan.

Kas Negara kosong kabarnya tapi pemerintahan baru tak sabar. Program untuk rakyat miskin berbalut kampanye terselubung dipaksakan tahun ini. It’s not worth it sir!!! Hentikanlah proyek kartu sakti itu. Uangnya cukup buat makan orang miskin se-Indonesia, mungkin bisa untuk setahun. Tanpa Kartu Sakti itupun, pemerintah bisa menyalurkan dana ke orang miskin karena pemerintahan sebelumnya bisa. Itu ide kampanye yang keren, orang-orang akan ingat Presiden ketika melihat Kartu itu. Program pemerintahan lawas sudah baik, sempurnakan saja kalau ada yang kurang.

Kawan, orang-orang miskin itu hanya butuh kebutuhan pokok untuk menyambung hidup. Jangankan membeli bensin, makan saja masih gali lobang tutup lobang. Jangankan membeli kendaraan, tinggal saja di kontrakan. Jangankan beli barang diskonan, baju saja nunggu pemberian dermawan.

Untunglah orang miskin tak bisa buka internet, mereka akan sedih karena meme pembangunan tak menyentuh mereka. Ternyata meme itu dari orang tak bertanggung jawab katanya. Ternyata pemerintahan baru ingin mengalokasikan penghematan ke pedesaan, itu baru solusi yang adil. Masih banyak pedesaan di Luar Jawa yang belum beraspal. Masih banyak pedesaan di Luar Jawa yang masih memakai lampu petromak.

Tulisan-tulisan AR sejak BBM dinaikan hanya ingin menyuarakan suara fakir miskin. Partai mereka, Partai Wong Cilik, sudah lupa dengan konstituennya. Singgasana memang membuat terlena. AR tahu ada bantuan uang tunai yang kalian cemooh ketika jadi oposisi, tapi AR yakin pemerintah tak punya data komprehensif jumlah fakir miskin di bumi pertiwi ini. Wong batasan miskin saja masih diperdebatkan. Terus, berapa lama pemerintah sanggup memberikan Bantuan Langsung untuk mengantisipasi kenaikan BBM ini? Kita semua tahu bahwa BBM memiliki multiplier effect (efek domino) ketika harganya diotak-atik. Jadi, berhentilah membandingkan rokok & BBM. Itu konyol!
image
(Sumber foto dari sini)

Alhamdulillah AR masih bisa makan dan senang-senang, entahlah mereka yang tak bisa membeli susu karena harga terus berinflasi.

Semoga Kapitalisme enyah dari negeri ini.

For a Better Indonesia!

Disclaimer: AR tak akan pernah setuju ketika harga BBM dijadikan komoditas politik, hari ini naik dan besok diturunkan untuk kampanye. AR sangat setuju jika BBM dijual sesuai harga pasar dan keuntungan Migas (Minyak & Gas) dialihkan ke orang miskin, terutama pedesaan di luar Jawa. Sebelumnya, usir dulu SPBU Asing agar Pertamina bisa terus berjaya.

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s