BBM naik, setuju kawan?

Dulu pas pemerintah mengeluarkan ide Redenominasi, keberhasilan Turki disebar media dimana-mana. Tapi, kegagalan negara lain tak diblowup. Sekarang, ide Redenominasi ngumpet entah kemana.

Dulu pas AR jadi Distributor MLM, AR omongin yang enak-enak, yang ga enak ditutupin. Itu bukan bohong, hanya strategi marketing liberal. Rasulullah SAW kalau dagang itu jujur tapi laris juga. Di era Kapitalis sekarang ini, jujur itu setipe sama bodoh.

Ternyata jalanin pemerintahan (baca: jalanin peran sebagai politisi) itu persis seperti promosiin barang dagangan. Dulu bilang, “Kalau rakyat ditanya, pasti maunya BBM tidak naik”. Sekarang pake itungan rumit dan ilmu langit untuk bilang harga naik: buat bangun infrastruktur, mencegah penyelundupan, dan alasan lainnya. Mungkin dulu setuju dengan alasan politisi lawan tapi ada alasan lain yang bisa merebut hati rakyat. Demokrasi model begini emang gila, Democrazy!!!
image
(Sumber foto: http://www.merdeka.com)

Kalau Sri Mulyani, Bambang Brodjo, Boediono, dkk pake itungan langit maka emang itu ilmu yang mereka dapat. Kalian kan dari kelompok Marhaen, pemikiran yang mengilhami Buku Putih kalian itu. Kalian ini amnesia atau pemain sandiwara? Politisi oh Politisi

Apakah menaikkan BBM satu-satunya solusi memecahkan defisit APBN? Banyak komponen yang bisa digunakan dalam keadaan yang kalian bilang “Darurat APBN” ini. Salah satu instrumen itu adalah Pajak Penghasilan Orang Pribadi. Kalau kalian itu memang Pro Wong Cilik (jargon yang selalu kalian pakai, entah Wong cilik sebelah mana), kenapa ga kalian pungut pajak lebih gede untuk orang kaya. Tarif 30% untuk penghasilan di atas Rp. 500 juta itu terlalu melenakan orang Super Kaya. Kalian naikin saja jadi 50% untuk penghasilan di atas Rp. 5 M, terserahlah berapa batasannya. Dengan uang 2 Milyar, mereka masih kenyang kok. Paling cuma 10% rakyat yang teriak karena memang cuma 20 jutaan orang yang menikmati Kue Pembangunan. Atau instrumen lainnya yang memang Pro Wong Cilik, sesuai moto heboh kalian itu. Jargon emang cantik, penyandang dana kampanye lebih cantik.

Kalau kalian diminta turunkan BBM oleh Wakil Rakyat yang baru rujuk itu, harga barang ga bisa turun bung. Kenapa ga izin dulu sih? Oh ya lupa, mereka kan lagi ribut. Inflasi memang cara Kaum Kaya mengontrol ekonomi. Seperti bunga bank riba yang naiknya cepat, turunnya lambat dan cenderung amnesia. Semoga SBI ga ikutan naek juga.

Apakah kalian punya data fakir miskin yang komprehensif? Doa orang kelaparan dan terdzolimi itu makbul bung, baek-baeklah dengan mereka.
image
(Sumber foto: http://www.sindonews.com)

Kenapa kalian ga ngomong, “Kita ini miskin. Negeri kaya yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghoffur itu cuma dirasakan 10% rakyat”. Kalau kalian ngomong begitu, kita kan bisa lebih “kejam” ke Orang Super Kaya itu. Tapi masalahnya, dana kampanye kalian kan dari mereka. Tapi masalahnya, asset mereka ada di Singapura. Tapi masalahnya, mereka bisa lari ke Cina kapan saja mereka mau dan meninggalkan kita kelaparan jatuh melarat. Sick!!!

Yang kaya makin kaya, yang miskin nunggu raskin. Btw, kalian pernah makan beras miskin belum? Itu bukan nasi bung, itu ampas nasi. Kalau belum pernah makan, Pro Wong Cilik itu emang sandiwara. Kalian harusnya mendapat Piala Citra.

Btw, di Saudi itu harga BBM murah banget. Di Malaysia juga lagi turun. Di Brunei juga murah dari dulu.

Semoga Indonesia lebih baik

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s