RIZQI bukan GAJI (Episode Kataping-Pariaman Part 2: MPV & Kereta Wisata)

Episode yang lalu:

“….Dan kami berempat pun turun dari Bus Damri yang tak tau kapan akan takeoff. AR masih tak lupa dengan wajah bingung Bapak Supir Damri melihat lima penumpangnya turun & berjalan meninggalkannya tanpa penjelasan yang kuat, ekspresi supir itu 11-12 lah dengan ekspresi Patrick ketika Squidward mengatakannya bodoh. (bersambung)”

Sopir muda itu masih mengeluarkan keluh kesahnya ketika mini bus buatan Jepang yang kami tumpangi sudah berada di luar kawasan Kataping. “Saya ga enak dengan Sopir Damri itu pak, setiap hari kami ketemu. Saya kira Saudara bapak hanya satu atau dua orang, ini penumpang satu Damri bapak bawa ke mobil saya”, raut wajah kaget bin seteress begitu kentara di wajah anak muda itu. Garis wajahnya keras, umurnya tak lebih dari 25 tahun menurut AR atau mungkin masih SMA, kulitnya khas orang terminal, agak kearab-araban atau keindia-indiaan wajah kurus itu, kasian juga melihatnya komplain dari tadi.

“Ini semua Saudara se-iman saya dek, hehehe. Kau kasi aja rokok sebungkus ke sopir itu”, sahut Mr. NG disebelah AR. Kami empat laki-laki korban Damri yang tak takeoff2, duduk berdesak-desakan di baris kedua MPV sejuta umat itu. Kursi baris ketiganya entah ditinggal di mana, mungkin memang sudah kesepakatan travel di sini sehingga membuat kami tak bisa mengeluarkan handphone dari celana. “Bawa aja kunci dongkrak kalau Sopir Damri itu tak mau menerima rokok satu bungkus”, gelak seorang anak muda di ujung pintu sebelah kiri. Selain AR dan Mr. NG, ada dua sahabat yang duduk berhimpit-himpitan di kursi belakang.

Bandara Internasional Minangkabau-Kataping -Kabupaten Padang Pariaman
Bandara Internasional Minangkabau-Kataping -Kabupaten Padang Pariaman

(Sumber Foto dari sini)

AR memberanikan diri mengajak berkenalan Mr. NG tapi 2 menit berikutnya AR sudah lupa namanya, tolong maklumin kalau suatu saat AR lupa nama kalian *myfalse. Dua orang sahabat itu ternyata karyawan bank, kalau tak salah inget karyawan Bank Nagari. Dinda yang duduk di sebelah supir namanya Riri, karyawan bank juga. Kalau dinda tak akan lupa namanya soalnya jadi bahan Mr. NG untuk menyusun kalimat ini: “pantaslah kita dipertemukan di dalam MPV ini, si Ketua dan Dinda namanya mirip”, ketawalah kami berlima sedangkan si sopir masih fokus nyetir dan pastinya memikirkan kata pertama yang akan diucapkannya ke Sopir Damri yang ditinggalkan seluruh penumpang *maafyapir. Sedangkan Mr. NG bekerja di Pelabuhan Teluk Bayur. Mereka berempat baru tiba dari kegiatan kantor masing-masing di Jakarta sedangkan AR sedang menjalani cuti dari pekerjaan di Jakarta. Kami pun terus berbincang dan mengkritik pelayanan Damri di BIM sampai akhirnya mobil hitam itu hampir tiba di Stasiun Tabing. Oh ya dari awal berbincang, Mr. NG memanggil AR dengan sebutan “ketua”. Sampai kini AR tak tau alasannya, mungkin karena jenggot AR waktu itu sedang lebat-lebatnya *ngakak.

“Baa lai ko pak?”, AR mencoba mengeluarkan kalimat bahasa minang paling fasih yang AR bisa. Arti kalimat itu “bagaimana lagi ini pak?”, maksudnya AR mempertanyakan biaya charter travel itu. “Turun saja, semoga berkah”, kata Mr. NG dengan nada suara yang tak berubah. AR pun turun di seberang Stasiun Tabing serta mengucapkan terima kasih ke Mr. NG dan si sopir. Masih banyak orang baik di negeri ini tapi bukan berarti kita diam saja melihat kemungkaran, silahkan baca opini AR tentang Amar Ma’ruf Nahi Munkar di sini.

Kereta Wisata Padang-Pariaman
Kereta Wisata Padang-Pariaman

(Sumber foto dari sini)

“Ada tiket ke Pariaman”, tanya AR dengan agak sedikit berharap karena sudah jam dua lewat. “Berapa orang mas?”, jawab penjaga tiket Kereta Wisata Padang-Pariaman ini. Dan akhirnya AR pun memperoleh satu tiket Kereta Wisata ke Pariaman seharga Rp. 2.500 saja. Sepertinya itu tiket terakhir karena sudah keliatan moncong keretanya. Penampakan tiket keretanya seperti tiket Matarmaja (Kereta Ekonomi jurusan Malang-Blitar-Madiun-Jakarta) yang dulu AR tumpangi ketika akan mengikuti training sebuah Multilevel Marketing di Batu, Malang.

Hari sabtu yang indah itu, sudah tak terhitung lagi seberapa banyak rizqi yang Allah berikan kepada AR: selamat sampai di Kataping, sholat dzuhur di bandara, makan siang dengan gulai ikan segar, numpang gratis ke stasiun tabing, dapat tiket kereta di detik-detik terakhir, dll. Benarlah ayat Al Qur’an tentang menghitung-hitung nikmat di bawah ini:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl [16] : 18).
(Sumber dari sini
)

Anyway, AR mengeluarkan uang Rp. 170.000 plus tips Rp. 30.000 untuk mencharter sebuah mini bus buatan jepang ketika Putri Pertama AR lahir ke dunia. Biasanya mertua AR yang jemput ke Bandara tapi karena lagi menemani bidadariku di Rumah Sakit, AR memilih untuk mencharter travel ke Kota Pariaman. Anyway, kereta wisata itu sudah dilengkapi mesin pendingin udara walau bukan AC sentral. Untuk Rp. 2.500 itu sudah luar biasa murah. Ayok jalan-jalan ke Pariaman, Kota dengan garis pantai terpanjang di Sumatra Barat. Tapi jangan kau harap ada bule telanjang di pantai kampungku. Kalau mau melihat bule keringetan, mainlah ke Pariaman dan Sumatra Barat ketika Tour de Singkarak sedang berlangsung. I love Indonesia ^_^.

Rizqi itu bukan gaji jadi bersyukurlah kawan.

20140315-105402.jpg

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s