Penyakit Ababil Nomor 5: STANDAR GANDA

Sakit Gila Nomor 5, ada yang pernah mendengar atau membaca kalimat ini? Kalau ini bagaimana:
“Menekankan belahan bola tennis sebagai alat bekam ke dada sehingga dada menonjol dan bidang” (daftar sakit gila dapat kawan-kawan lihat di sini). AR yakin mayoritas pembaca setia blog ini adalah pembaca novel fenomenal, LASKAR PELANGI. Bang Andrea, kupinjam dan kumodifikasi sedikit istilah sakit gilamu itu ya ^_^.

Penyakit Ababil Nomor 5 : STANDAR GANDA. Apakah kawan-kawan sekalian sudah membaca secara runut cerbung (cerita bersambung.red) AR yang berjudul “STANDAR GANDA: Ini Ujian Matematika kan?”? Kalau belum, silahkan di baca dulu dari episode 1 s.d. episode 4 agar tak bingung membaca tulisan ini.

Di episode pertama, AR sudah memunculkan istilah STANDAR GANDA di judul cerbung di atas. Tenang, ini bukan blog motor yang akan membahas cara menggunakan standar ganda or samping, hehehe. Walau blog motor merajai wordpress, AR tak akan mengambil lahan brother-brother bikers yang doyan nulis. Niat sih ada tapi kemampuan tak ada, hahaha. Back to topik, pertama kali AR membahas tentang STANDAR GANDA itu ketika kawan-kawan AR di dunia maya (entah di facebook, twitter, gtalk, whatsapp, atau bahkan di lapak-lapak jual beli) ngomongin/ngeghibahin/ngegosipin/ngehina Bu Wirianingsih, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, terkait biskuit berstikernya.

Kalian tahu siapa Bu Wirianingsih? AR baru tahu bahwa beliau istri dari Pak Mutammimul Ula (biasa dipanggil Kang Tamim katanya) ketika membaca buku 10 Bintang Al Qur’an ini. AR baru membeli buku di atas ketika guru ngaji AR di Ma’had Al Manar bercerita kalau salah satu putri Kang Tamim ditawarkan jadi pengajar di Al Manar, setelah itulah Ustadz Imam Bukhori bercerita tentang keluarga Bu Wirianingsih.
10 Bersaudara Bintang Al-Qur'an
Soal ujian pada cerbung di atas adalah “0+1 = ???”. Ada yang bisa jawab soal ujian ini di episode satu? Kalau ada yang bisa jawab di episode satu berarti daya analisa kalian luar biasa *salut. Hanya ada dua orang yang AR kagumi daya analisanya di dunia ini yaitu Sherlock Holmes dan Conan Edogawa tapi sayang mereka hanya tokoh rekayasa di alam dongeng. Seharusnya kawan-kawan semua sudah bisa menjawab soal itu ketika Pak Acen mengeluarkan kata “penjaskes” di episode 4. Seinget AR hanya basket dan sepakbola yang menghargai satu tembakan/gol sebagai 3 poin: three point di basket dan tiga poin untuk kemenangan di sepakbola/futsal. 0+1 belum tentu hasilnya satu kawan, tergantung mata pelajarannya. Terus terang ide ini bukan murni dari AR, soal nyebelin ini pernah AR temukan di buku pembahasan soal UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) beberapa tahun yang lalu tapi jawabannya sangat filosofis. Kalau pembahasan yang AR buat InsyaAllah sangat logis, iya apa iya?

Axl, Rusmev, Yana, & Caca bisa menjawab dengan benar karena mereka adalah siswa yang dari awal sadar akan menghadapi ujian Penjaskes bukan Matematika. Mereka berempat sadar sesadar-sadarnya kalau Penjaskes bukan Matematika sehingga bisa menjawab dengan cara menganalisa secara komprehensif soal tersebut. Dengan kata lain, mereka berempat tidak menerapkan STANDAR GANDA. Sedangkan siswa lainnya termasuk Danar tetap dengan STANDAR GANDA-nya menganggap Penjaskes sebagai Matematika. Emang penting banget ya pembahasan STANDAR GANDA ini bagi AR?

Kalian tahu esemka, itu lho mobil yang membuat nama jokowi meroket di mata para ababil. AR sendiri aja sampai sempet bilang ke orang tua kalau esemka diproduksi massal maka AR akan menjadi salah satu pembelinya *tertipumentah2. Dan apa yang terjadi, sampai detik ini belum ada izin dari aparat terkait untuk produksi massal esemka. Lho kok bisa? Kawan-kawan bisa baca di berita ini atau opini ini, AR ga tau siapa yang nulis di kompasiana tapi bolehlah buat bahan analisa. Poinnya, para pengikut setia jokowi (jasmev, jokowi lovers, PKS Haters dkk) itu menggunakan standar mereka sendiri untuk mengatakan esemka sudah siap produksi massal dan menyalahkan aparat yang tak mengeluarkan izin produksi massal untuk esemka. Sedangkan aparat berwenang, punya standar sendiri dalam meloloskan suatu produk untuk diproduksi massal. Seharusnya para pengikut setia jokowi itu membahas alasan aparat terkait ketidaklayakan esemka untuk diproduksi massal bukannya su’udzon dengan mengatakan aparat dibayar pabrikan besar. Di sini, para pengikut setia jokowi menggunakan STANDAR GANDA yaitu standar “bengkel” esemka ketika menilai keputusan aparat bukannya SNI (Standar Nasional Indonesia). Anyway, AR sangat yakin anak-anak bangsa bisa membuat (bukan merakit lho ya) mobil nasional karena IPTN aja sanggup membuat pesawat nasional.

Sama halnya ketika kawan-kawan AR memperbincangkan Bu Wirianingsih, walau sudah ada penjelasan dari Kader PKS terkait biskuit itu tapi mereka malah ngemeng kek gini:

Si fulan #1: Kalau memang niat nolong ya ikhlas dong, kan Ustadzah. Kalau bukan Ustadzah, gpp klo ga ikhlas *gubrak
>>>Tanggapan AR: Kalau semua aleg (anggota legislatif) di Komisi tersebut melakukannya, lah kenape ente hanya memvonis Bu Wirianingsih yang ga ikhlas. Anda sedang terjangkit penyakit ababil No.5 bung!!! Anyway, emang ada aleg dari komisi tersebut yang membagi-bagikan biskuit seperti Robin Hood (ditarok dalam kresek putih terus ditinggalkan dipintu rumah orang miskin pada jam tidur? *tepokjidat)? Daripada ngeributin biskuit gratis itu, mendingan kalian ributin money politics seperti pembahasan Ustadz Ahmad Sarwat ini.

Si fulan #2: Sama aja semua partai, golput ajalah besok. Dulu gw pernah ikut liqo (mengaji & mengkaji Islam bersama Kader/Simpatisan PKS) tapi gw kecewa dengan kelakukan alegnya seperti kelakukan Bu Wirianingsih ini.
>>>Tanggapan AR: Jiaaah ente pigimane sih, masak saudara se-iman menjadi alasan kegolputan kalian. Kalau semua sama (membagikan biskuit ke konstituennya entah pake stiker, leaflet, booklet, dkk) kenapa ente jadikan hal itu sebagai standar dalam memilih dan akhirnya memutuskan golput. Carilah standar lain yang membuat anda bisa menilai partai/aleg mana yang lebih baik, contoh: Indeks Korupsi seperti yang dibahas di blog Pak Rahmat Mulyana ini.

Dan fulan-fulan lainnya, oh ya waktu itu AR sendiri melawan beribu-ribu PKS HATERS di dunia maya (kalau ini agak lebay dikit *ngakak)

Kawan, jika kalian menerapkan STANDAR GANDA maka AR yakin pilihan kalian di Pemilu nanti bukanlah yang terbaik. Terus musti pake standar apa dong? Apapun standar yang kalian gunakan, ingatlah pesan AR: SAY NO TO STANDAR GANDA!!!
Kawan-kawan yang nasionalis mungkin bisa menggunakan STANDAR INDEKS KORUPSI seperti tulisan di whycorner.blogspot.com atau standar lain. Kawan-kawan Muslim tentunya lebih aman jika menggunakan STANDAR Ke-ISLAMAN (baca: yang paling baik ke-Islamannya dan paling membela Islam) agar tak gelagapan menjawab pertanyaan di Yaumul Hisab nanti. “Gw pengennya menilai dengan Indeks Korupsi dan Indeks Ke-Islaman mas “. Bagus banget itu, jadi akan lebih tersaring tapi ingat: ketika menggunakan STANDAR INDEKS KORUPSI maka gunakanlah standar itu ke seluruh partai/aleg/capres. “Maksudnya gimana tuh mas?”. Gini lho: ketika kawan-kawan menilai Partai A/Caleg A/Capres A maka nilailah tingkat korupsi mereka saja titik. Jangan kayak ababil yang menggunakan STANDAR GANDA, ketika menggunakan Indeks Korupsi mereka pake perasaan atau indeks agama. Ilustrasinya mungkin seperti di bawah ini:

Si Fulan #3: Partai A paling sedikit kasus korupsinya tapi kan mereka ustadz alias orang yang paham Agama, lebih parahlah kalau mereka korupsi.
>>>Tanggapan AR: Ente pigimane kagak paham-paham juga. Kalau mereka paham agama maka kenapa ga ente masukkan itu sebagai kelebihan mereka. Karena mereka pada paham agama makanya Partai mereka paling sedikit yang melakukan fraud (korupsi or suap). Islam tak akan rusak walau seluruh muslim di jagat raya ini rusak. Yang menjaga agama ini adalah Allah SWT. Kita yang perlu Islam bukan Islam yang perlu kita. Lagian sampai saat ini pun, kasus terbesar (menurut media mainstream) yang melibatkan Parpol Islam itu juga belum diketahui apakah diajukan banding atau tidak alias belum pasti kekuatan hukumnya a.k.a. inkracht.

Si Fulan #4: Jangan jual-jual Agama dong kalau ga mau dinilai dengan STANDAR GANDA (baca: menaikkan Indeks Korupsi karena yang melakukan Ustadz)
>>> Tanggapan AR: emang dijual berapa agamanya sama politisi itu? Ente ini pigimane sih, namanya juga Parpol Islam ya pasti seluruh kadernya menunjukkan keIslamannya. Kalau Partai Nasionalis ya menunjukkan kenasionalisannya termasuk heboh di twitland kalau denger/baca sesuatu yang berbau Nasional: entah Mobil Nasional rakitan anak SMK, entah penyanyi nasional yang katanya bisa go internasional, dan entah-entah lainnya.

Dan fulan-fulan lainnya.

Kawan-kawan sekalian, apa rasanya jika kalian dinilai dengan STANDAR GANDA ketika sedang melamar pekerjaan? Ilustrasinya begini:
Kawan sekalian melamar pekerjaan dan secara nilai TPA, TOEFL, dan PSIKOTEST, anda sekalianlah yang terbaik. Tetapi oleh bagian penerimaan karyawan, anda sekalian diletakkan di nomor dua karena beragama Islam. At last, anda tetap jadi pengangguran dan tiap pagi mendengar omelan ibunda tercinta karena perusahaan hanya membutuhkan satu orang karyawan.

Menggunakan STANDAR GANDA itu ga asyik dan sangat menyakitkan yang dinilai serta bikin anda tetap menjadi ababil sepanjang masa, ababil tingkat dewa walau sudah tua.

SAY NO TO STANDAR GANDA!!!

FOR BETTER INDONESIA, MERDEKA!!!

Catatan Kaki:
Gambar diambil dari sini

NB: Sepertinya ini tulisan terpanjang yang AR hasilkan padahal besok tes Beasiswa S2, argggh durung sinauuuuuu

Iklan

4 pemikiran pada “Penyakit Ababil Nomor 5: STANDAR GANDA

  1. Sudah selesai bacanya. Ternyata begitu toh! Ckck standar ganda soal penjaskes, tapi untuk pemilu nih! Saya memang sedang bingung, kok kader partai A di selebarannya oke punya dipandang dalam kaca mata Islam, karena standar saya islam. Partai B juga, kadernya yang itu juga bagus secara standar saya tadi. Nah akhirnya saya gak mau ambil capek, kenapa gak lihat AD/ART atau Visi Misi partai tersebut, beres kan! Lihat lagi mana yang lebih terbuka, apalagi menonjol islamnya, sesuai standar saya itu. Caooouuuu 😀

    1. Kmrn khutbah jum’at di masjid kantor temanya Syirik. Intinya: apabila ada yg berbuat syirik maka bencana akan datang.
      Saya hanya menginginkan bencana tak terus2an datang karena wakil rakyat & presiden yg terpilih melakukan perbuatan yg mengundang bencana.

      Klo visi misi parpol, saya malah ga tau satupun,hehehe… Apakah visi misi yg tertuang itu murni kebenaran, siapa tau cuma kamuflase… Siapa tau ada partai yg mengingkan Indoesia jd negara komunis…
      Makanya saya tak pernah peduli dgn visi misi, saya hanya menilai apa yg bisa saya nilai… Dan menilainya tidak dengan standar ganda tentunya…

      Saya mengambil contoh PKS disini karena ide awal tulisan ini dari kejadian yg menimpa aleg PKS. Saya perhatikan PKS adalah Parpol Islam yg paling dibenci media mainstream, ga tau alasannya. Apa karena kevokalannya di koalisi atau hal lainnya.

      Saya bukan simpatisan PKS ataupun Kader PKS. Saya punya banyak teman kuliah yg ikut liqo (mengaji&mengkaji ilmu) dgn PKS. Saya pernah di ajak tp saya tak pernah datang, hehehe… Saya lebih memilih main PS, Championship manager/FM skrg, atau Counter Strike… Anyway, ketika ngantor pertama kali, ada ibu2 yg ikut liqo PKS dan menunjukkan integritasnya ketika senior yg laen belum berintegritas… Saya melihat banyak hal baik yang dilakukan PKS untuk Islam & Negeri ini.

      Sekali2nya saya bersinggungan sangat dekat dengan kawan2 PKS ketika ada tabligh umum di sebuah masjid di jakarta pada hari libur, yg mengadakan Forsimpta (forum silaturahmi masjid perkantoran). Waktu absen pertama kali saya ditanya siapa nama murobbi (guru) saya, lah saya bengong wong ga punya murobbi, hahahaha…

      Saya sudah berniat tak akan masuk ke satu kelompok selama Muslim di indonesia belum bersatu. Saya belajar agama dgn Ustadz Salafi, HTI, PKS, NU, Muhammadiyah, Persis, Jamaah Tabligh dll… Klo nanti sudah pada bersatu, saya akan pilih satu kelompok hanya agar saya dekat dgn orang2 soleh.

      1. Menanggapi tanggapan mas bro yang ini perlu energi buat mengemukakan pikiran. Bagaimana ya biar singkat 😀

        1. Saya ingin mengawali pokok permasalahan pada sistem pemerintahan. Yang mana kita adalah demokrasi. Kekuasaan di tangan rakyat. Rakyat masih banyak yang belum pintar baca, mudah dikibulin. Sistem ini gak sempurna rupanya.

        Tapi dalam sistem demokrasi, bener konsepnya, tinggal pelaksaannya yang bener-bener susah. Karena ya kekuasaan tadi di tangan rakyat. Kekuasaan di tangan raja juga salah. Karena kukuasaan di tangan Tuhan sahaja. Namun, kekuasaan yang baik ujung2 akan berlabuh kepada satu jalan, yaitu musyawarah, apapun itu sistemnya. Demokrasi yang musyawarah untuk mufakat, ini baru demokrasi yang aman. Dan ini terjadi di indonesia.

        2. Variabel-variabel terbentuknya pemerintahan islam yang sah, dan terbentuknya negara islam yang sah, ternyata ada di indonesia. NU, muhammadiyah, dan salafi tau betul hal ini.

        3. Negeri ini terlalu banyak rahmat Allah dari pada peringatanNya dan istidrojNya. Karena sudah terbukti, negeri ini aman. Akan tetapi sayang sekarang hambanya, dan rakyatnya di mata pemimpin yang suka bikin kekacauan, jadi kurang aman lah negeri indonesia ini.

        4. Rahmat Allah dan Kebijakan Pemerintah = rasa aman itu. Saya baru tau kalo pemimpin dan negara indonesia ini adalah negara islam yang sah. Jadi kalo dulu melanggar tata tertib lalu lintas itu saya anggap remeh, hal sepele, maka sekarang sebaliknya. Saya berpikir kembali, lah kalo dari dulu, dan semua orang sepaham dengan saya, maka bukannya berlalu lintas itu jadi nyaman.

        Kemudian Undang2 lainnya, yang mengatur kemaslahatan umat. Ternyata kalo negeri ini dikudetakan, saya pikir akan berat untuk mengkondisikan lebih baik dari sekarang. Kalo bukan invansi pihak asing yang sudah terbukti. Bukan karena negara arab yang bertetanggaan tidak bisa membantu, karena kita masih lemah. Kaum muslim masih lemah. Akar masalah yaitu SYIRIK masih ada di mana2 😦

        5. Partai politik, adalah bagian dari pemerintahan dan sistem yang sah. Yang mana hal ini membawa kemaslahatan. Namun sistem ini benar adanya, tapi salah dalam pelaksanaannya. Karena orang yang menjalankannya bukanlah ingin meraih ridho Allah semata, tapi ada misi asing yang lebih ingin diwujudkan.

        Tapi ini ujian bagi kaum muslimin. Karena masalah ini datang bukan karena disengaja, bukan juga karena masa silam, tapi memang kita sudah jauh dari agama.

        Tidak usah parpol islam yang pecah, organisasi juga bisa pecah. Itu wajar. Dan hidup di sistem demokrasi menjadi langkah mudah dalam mewujudkan hal tersebut. Ini kelemahan sistem memang, tapi orangnya yang bikin bener-bener lemah juga.

        Sekali lagi, sistem gak ada yang salah. Orang yang menjalankan lah yang salah.

        Kembali ke partai, maka sudah jadi jalan kita untuk berpikir luas. Partai adalah konsepnya benar, tapi bisa jadi gak benar kalo yang jalanin salah. Ketika kita milih partai A, itu bukan dosa apabila kita sudah ikhtiar. Ini adalah tanggung jawab pemimpin kita yang menginginkan sistem ini kok.

        GOLPUT juga adalah pilihan. Pemimpin kita dan Allah tau apa yang sudah diusahakan, dan di demokrasi ini sah.

        Standar ganda dalam visi misi dan AD/ART partai bukan jadi soal juga. Kita disuruh untuk memahami partai yang kita dapat info darinya. Gak ada dosa dalam hal ini. Pertanggung jawaban akan dosa itu kalo kita asal-asalan memilih pemimpin. Padahal sudah jelas kalo konsep islam mengajarkan untuk cerdas dalam memilih pemimpin.

        6. Menanggapi berbagai isu yang digelontorkan organisasi2 islam tentang GOLPUT, kita harus cerdas. Kita di sini harus buka hati seluas-luasnya. Melihat pendapat ulama mana yang paling kuat. Biarin aja ulama B salah, dia dapat pahala 1 kan! Kita pilih ulama A, dia dapat 2 pahala.

        Kalo saya lihat, GOLPUT bisa bener bisa salah. Tapi saya gak mau ambil pusing, konsep yang ditawarkan sistem2 dalam perpolitik indonesia itu sudah benar saja, tinggal orangnya, mau gak menutup celah kesalahan dalam sistem tersebut. Saya lebih melihat masalahat dalam jangka pendek sampai panjang. Saya berusaha memilih bukan karena hati, sebab hati bisa kena penyakit riya, tapi karena Allah saja.

        7. Tips dan trik hidup di dalam indonesia agar tidak tertipu dan sengsara mesti ada kan! Tips dan trik memilih pemimpin mesti ada!

        8. Sudah bingung mau ke mana pembicaraannya. Ke puter-puter nih 😀

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s