Instansiku Haram Juragan, Yakin?

Di satu scene, pemeran Hamzah r.a. menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan keluh kesahnya. Singa Padang Pasir itu kesal karena Rasulullah SAW tak jua mengeluarkan mandat perlawanan terhadap penindasan Kaum Musyrik Quraisy. Beliau r.a. sampai meminta maaf kepada Rasulullah SAW karena mengeluarkan suara tinggi (baca: emosi) di hadapan Muhammad SAW. (Lihat Episode Hamzah bin Abdul Mutholib r.a. di sini)

Para Sahabat r.a. saja berbeda sikap terkait belum keluarnya mandat perlawanan dari Rasullah SAW. Dapat kita lihat bahwa Paman Nabi SAW, Hamzah r.a., mengajukan protes kepada Beliau SAW. Sahabat r.a. yang lainnya pasti ada yang sepedapat dengan Hamzah r.a. dan pasti ada yang tidak sependapat dengan beliau r.a. Karena waktu itu masih ada Rasulullah SAW maka semua patuh dan tunduk terhadap setiap keputusan Muhammad SAW.

Saat ini kita tak punya Khilafah Islamiyah yang berdaulat, yup tak ada Saudaraku. Saudi bukan, Pakistan bukan, Mesir bukan, Brunei bukan (katanya Brunei Darussalam mau menerapkan sebagian Hukum Pidana Islam kek Saudi, di sini infonya), apalagi Indonesia. Oleh karena itu, tak ada yang bisa menyalahkan cara berdakwah suatu kelompok. Tak ada yang boleh merasa paling benar. Yang harus kita lakukan adalah membuat buih-buih dalam lautan ini menjadi ombak-ombak yang menghancurkan setiap kemungkaran yang ada di muka bumi (pembahasan mengenai Hadits Nabi SAW yang menceritakan Kondisi Muslim di akhir zaman dapat dibaca di sini). Untuk menjadi ombak maka kita harus membantu dan saling dukung.

Sebentar lagi Saudara kita yang berdakwah lewat jalur politik akan menghadapi perangnya (pemilu.red) maka sudah kewajiban kita untuk mendukung dan membantunya semampu yang kita bisa. PKS, PAN, PBB, PPP, PKB membutuhkan bantuan kita. Dan bantuan yang paling bermanfaat untuk mereka adalah suara kita. Satu buih tak akan kuat memecahkan batu karang, seperti halnya satu suara tak akan kuat memecahkan rekor belum pernahnya Parpol Islam memenangkan Pemilu. Tapi, satu ombak yang maha dahsyat akan membuat rekor itu terpatahkan.

Bersatulah Saudaraku!!!
Bersatulah Saudaraku!!!

Beberapa tahun yang lalu, AR pernah berdiskusi dengan seorang pemilik toko herbal di Jakarta. Pertama kali AR bertransaksi di toko ini mungkin sekitar tahun 2006, saat kehidupan kedua itu dimulai (nanti akan AR ceritakan bagaimana Allah SWT memberikan petunjuk-Nya dengan jalan tak AR pernah bayangkan, topik khusus mungkin akan AR tambahkan di blog ini). Hari itu (AR lupa tahunnya, mungkin sekitar tahun 2009 ketika AR memutuskan tak aktif lagi di Inter Club Indonesia. Dan di musim 2009-2010 lah Allah SWT memberikan kado Treble Winners untuk AR dan Interisti sedunia, subhanallah) AR sedang mencari Al Qur’an Madinah untuk AR gunakan dalam kelas Tahsin di Al Manar, Utan Kayu, Jakarta Timur. AR baru tau kalau Al Qur’an yang beredar di Indonesia itu berbeda dengan yang beredar di Timur Tengah dalam beberapa detail penulisan. Perbedaannya mungkin ga lebih dari 5 poin kalau dijabarkan dan yang paling bikin AR mumet itu pas ngeliat ada huruf Alif di awal kalimat yang tak berharokat, keringat dingin bacanya :D. Tapi isi tetap sama dengan Mushaf yang dikodifikasi oleh Khalifah Utsman bin Affan r.a. 14 abad yang lalu, kita harus bersyukur Allah SWT langsung yang menjaga kemurnian dan keaslian Al Qur’an dan salah satu cara-Nya adalah memperbanyak Para Penghapal Qur’an. AR mencoba googling dan kawan-kawan bisa baca pembahasannya di sini. Sampai hari ini pun AR masih kesulitan menentukan harokat Hamzah Washol di awal ayat Qur’an Madinah, ada yang bisa bantu? ^_^ (melihat Al Qur’an versi Urdu adalah solusi sementara,hehehe).

AR tanya saja dengan orang yang kelihatannya pemilik toko, beliau berbaju gamis dan seperti mengawasi pekerja & pembeli (kita sebut saja Juragan karena AR ga pernah bertanya namanya).

—–AR: Pak, ada Al Qur’an Madinah?
–Juragan: Ada, ini Rp.60.000-an (sambil memberikan Qur’an cover hitam cetakan Mesir)
—–AR: Yang cetakan Madinah (AR sebelumnya ditawari Al Qur’an Wakaf Kerajaan Saudi second di deket toko ini juga) kagak dijual ya?
–Juragan: Iya mas, wakaf itu.

Setelah itu, Juragan menanyakan kerjaan AR dan mengajak ngobrol di salah satu sudut toko sambil berdiri (tokonya itu ruko 2 lantai tapi tak ada kursi buat leyeh-leyeh jadi yang ke sana pasti niat belanja bukan cuci mata dan tutup sekitar 20-30 menit jika tiba waktu sholat , subhanallah). Inti dari pembicaraan Juragan adalah HARAM-nya tempat AR bekerja. Juragan manyarankan AR resign, seperti yang dilakukannya dulu kala. Terus AR nanya, “Klo tempat AR bekerja itu haram maka Negara ini haram dong pak”. Dia langsung ngeles seperti ahok ngeles ketika ditanya tentang janjinya & jokowi tuk jadi pemimpin Jakarta selama 5 tahun (baca ngelesnya ahok di sini), “Ga usah ngurusin negara mas, urusin diri kita sendiri dulu” *tepokjidat. Kalau semua muslim di jaman penjajahan berpikir seperti si Juragan ini maka Indonesia tak akan pernah menjadi NKRI alias Merdeka, ampun Juragan.

Kami sudahi diskusi itu karena tak ada titik temu. Sampai saat ini, AR masih sering beli madu/sari kulit manggis/dll di toko Juragan padahal kawan sekantor sudah menyarankan belanja herbal di condet. AR tak marah karena pengharamannya kepada pekerjaan AR adalah masalah khilafiyah, kawan-kawan bisa baca di sini. Dan kalau belum puas tentang khilafiyah, silahkan searching di website Ustad Ahmad Sarwat ini di bagian Konsultasi.

Sama halnya dengan Demokrasi dan Pemilu, ini adalah masalah perbedaan pemahaman. Bahkan untuk menentukan Demokrasi itu berada di ranah Aqidah atau Muamallah (Fiqih) saja pada berdebat, silahkan baca penjelasan Ustadz Ahmad Sarwat di sini. Bahkan ada yang membid’ahkan (baca:memvonis Saudaranya masuk neraka) karena berdakwah lewat jalur politik, silahkan baca penjelasan lengkap Ustadz Sarwat di sini. IMHO, AR memandang demokrasi itu berada pada wilayah Fiqih (Muamallah) jadi wajarlah kita berbeda pendapat. Sama halnya ketika kita berbeda pendapat mengenai Qunut itu Sunnah Muakkad atau tidak. Walau kita berbeda dalam Khilafiyah bukan berarti kita tak se-Iman lagi, si Juragan dan kelompoknya adalah Saudara se-Iman AR dan para Politisi Islam di PPP, PAN, PKS, PBB, PKB juga saudara se-Iman AR. Sesama Saudara wajib saling tolong-menolong dan memberikan suaramu untuk Parpol Islam adalah pertolongan terbaik dan tanpa dipungut biaya, kalian tak pelit kan pastinya. AR tetap belanja di toko Juragan walau sudah mengharamkan pekerjaan AR.
masyumi
Asal kau tahu Saudaraku, saat ini semua kelompok Islam termasuk si Juragan dan kawan-kawannya tinggal dan mencari rizqi di Negara Demokrasi kita tercinta ini. Atau ada yang tinggal di dunia lain?

SAY NO TO GOLPUT!!!

SAY NO TO BID’AH sembarangan!!!

FOR BETTER INDONESIA, MERDEKA!!!

_________________________

Catatan Kaki:
Gambar di ambil dari sini dan sini
NB: Hikmah Cerbung “STANDAR GANDA: Ini Ujian Matematika, kan?” setelah ini ya. Stay tuned kawan ^_^

Iklan

5 pemikiran pada “Instansiku Haram Juragan, Yakin?

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s