Kawasan Prostitusi, Gile Lu Cuy!!!

Begitu banyak ide di otakku tuk disharing di blog minimalis ini tp mempromosikan salah satu tempat belanja favoritku yg jadi pemenangnya. “Kawasan”, begitu orang banyak memanggilnya. Jangan ngeres dulu ye pikiran kelian, kawasan ini bukan kawasan yang ada di bukunya Moammar Emka apalagi kawasan yang ingin diwujudkan oleh Ahok, ini bukan Kawasan Prostitusi. Hok hok, orang yg peduli dengan lingkungannya pasti tau kalau di Jakarta itu banyak (lebih dari dua) tempat berzinah tp bukan berarti kau bisa melokalisasinya. Jika sudah di lokalisasi berarti pemerintah & rakyat (diwakili DPRD pastinya) sudah menghalalkan zina. Di agamaku mendekati zina saja haram apalagi melakukannya, tak taulah denganmu. Yang kuheran, jokowi malah bingung menentukan sikap. Kuharap dalam hati jokowi ada penolakan atas niat lokalisasi ini, setidaknya itu menunjukan keimanannya serta kelemahannya dalam menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Selemah-lemah iman adalah ketika kau hanya menggunakan hati tuk mengingkarinya. Kejahatan/kemungkaran/penyelewengan harus dihentikan sejak taraf perencanaan krn jika tidak maka makin sulit tuk menghentikannya.

Hadits Rasulullah saw, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)
Sumber: Klik Disini
Back to topic guys ^_^. Kawasan ini dihuni oleh berpuluh-puluh pabrik, kantor polisi, pemadam kebakaran, stasiun tv, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Cakung Satu, dan PEDAGANG KAKI LIMA.

Di ujung kawasan arah buaran, para pedagang kaki lima itu berjualan (kita sebut saja “kawasan dagang” ya prens). Mencari lokasinya tak terlalu susah, kau tanya saja arah ke Kantor Pajak (Cakung Satu) atau arah ke BBI/PT Bina Busana Internusa. Kalau kau tersesat di kawasan, tanya saja satpam. Lebih bijak jika kau lihat-lihat dulu lokasinya di peta jakarta atau kalau percaya diri dengan GPRS atau Indra Keenammu (kmrn ada WP yg mengaku punya indera keenam, mantab gan) maka langsung saja jalan.

Pertama aku tau lokasi ini ketika di ajak kawan sekantor ke KPP Cakung Satu, sekitar tahun 2006. Barang pertama yang kubeli di kawasan dagang adalah sebuah helm hitam seharga Rp. 50.000 yang kutempeli stiker INTER, jangan kau tanya SNI atau tidaknya karena waktu itu belum keluar aturannya. Setelah itu aku jatuh cinta dengan kawasan dagang, murah & semua ada.

Hari minggu kemarin, aku berniat membeli jas hujan karet. Kata kawan merk ASV yang oke tp AXIO karet juga ga jauh beda kualitasnya. Tak ada niatku ke tempat ini awalnya tapi ketika akan keluar rumah, tiba-tiba saja kawasan dagang ini terlintas dipikiranku. Awalnya aku mau ke otista, pusat penjualan asesoris motor di kampung melayu. Aku berspekulasi jika banjir di kampung melayu sudah berakhir jadi kucoba saja ke sana krn kalau ke lokasi tokoagata di palmerah terlalu jauh (makasih mas hendro infonya, jas hujannya berapa hari baru sampai di tangan bro?). Mungkin itulah yang namanya jodoh, kau rencanakan menikah dengan si A sejak bangku kuliah malah si B yang membuat hidupmu tambah indah. Akhirnya kunaiki spacy putihku dan kutelusuri jalanan menuju ke lokasi itu.

Subhanallah, kawasan dagang ini makin ramai dengan pedagang kaki lima. Makin ramai jumlah pembeli dan pedagang di sini, mungkin inilah bukti dari perkembangan ekonomi yang di bilang pak menteri : ekonomi rakyat miskin makin meningkat atau pembeli2 ini dulunya dari kelompok ekonomi menengah? Yang pasti aku di sini mencari jas hujan dgn harga murah. Sekitar 15 meter sejak masuk ke kawasan itu, tampak jas hujan berbagai merk bergelantungan. Sebelum lapak non-online si penjual jas hujan, berbagai barang dijajakan pedagang kaki lima : asesoris hp, asesoris motor, bantal, sendal crocs2an, apapun ada di sini tampaknya.

“Bu, ada jas hujan ASV karet?”, tanyaku. “(Sambil merapikan barang dagangannya) Ada mas”, jawab si ibu. “Ga ketemu mas, ini AXIO karet aja, sama kualitasnya”. Oke, akhirnya kuteliti barang itu dan kutanya harganya. Ternyata harganya lumayan mahal, Rp. 190.000. Karena dah dapat info dari bro hendro klo axio karet di lapak online harganya Rp. 130.000 maka kutawar saja segitu. Setelah proses tawar menawar dan sedikit “action” dgn sok berjalan meninggalkan si ibu, Rp. 140.000 jd kesepakatan bersama (Klo lapak online ditambah ongkir jadinya Rp. 146.000, semua senang gan). “Biasanya ini Rp. 150.000 ummi jualnya tapi gpp lah”, kata si ummi. “Gpp lah mi, penglaris kan?”. “Ummi udah jualan dari pagi, bapak jualan dgn mobil di Pulojahe”. Pede banget klo transaksiku adalah transaksi pertama si ummi,hehehe. Si ummi cerita klo minggu kemarin omsetnya sehari dari jas hujan mencapai Rp. 15 juta. Di tengah derita korban banjir, ada rizki ummi dari musim hujan ini. Masihkah kau salahkan hujan kawan? ah sudahlah.

20140130-200530.jpg

Iklan

Komentar Disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s